Keterampilan Interpersonal 1 : Kepemimpinan

Kuliah Keterampilan Interpersonal yang biasanya outdoor , untuk hari ini dilakukan berbeda. Kita kuliah Indoor dengan menonton fim Gung Ho, dari filim tersebut kita membuat ringkasan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan. Film Gung Ho ini start kita belajar dengan Materi Kepemimpinan.


Deskripsi Naratif film Gung Ho

Gambaran tentang kondisi budaya bangsa dalam suatu lingkungan bisa tercermin dalam berbagai visual. Film Gung Ho menjadi salah satu visualisasi tentang bagaimana budaya bangsa itu berlaku dan berkembang. Refleksi tentang apa yang terjadi pada dekade 80-an pada bangsa Amerika dan Jepang menjadi topik utama dalam film ini. Benturan dua budaya kontras (barat dan timur) yang diwakili pekerja pabrik dari kedua bangsa tersebut menimbulkan berbagai konflik budaya dalam beberapa aspek.

Film ini di perankan oleh Michael Keaton sebagai Hunt Stevenson (Penghubung antara pekerja Amerika dengan petinggi Assan Motor Japan), Gedde Watanabe sebagai Oishi Kazihiro (Direktur Assan Motor di Amerika), George Wendt sebagai Buster, Mimi Rogers sebagai Audrey (Pacar Dari Hunt Stevensont), John Turturro sebagai Willie, So Yamamura sebagai Mr. Sakamoto (Pemilik Assan Motor), Sab Shimono sebagai Saito, Rick Overton sebagai Googie, Clint Howard sebagai Paul, Jihmi Kennedy sebagai Junior, dan Ron Howard sebagai Film Director.

Cerita ini bermula pada salah satu perusahaan mobil Jepang yang bernama Assan Motor Company mendapat tawaran untuk membuka kembali pabrik motor di Amerika Serikat, tepatnya di Hadleyville, Pensylvania yang telah lama tutup. Hunt Stevenson yang di tunjuk sebagai perwakilan dari kaum buruh berangkat ke Jepang untuk melakukan presentasi kepada para pimpinan Assan motor. Dia berharap mereka mau untuk “menghidupkan” kembali pabrik tersebut, karena banyak penduduk kota yang tinggal di sekitar pabrik yang menggantungkan hidupnya dari pabrik motor tersebut, sekaligus menyelamatkan warga kota tersebut dari keterpurukan ekonomi.

Semula Stevenson menganggap usaha yang dilakukannya ini tidak berhasil, akan tetapi ternyata setelah selang beberapa hari setelah dia kembali ke Amerika dia mendapatkan kabar bahwa pihak Assan Motor Company bersedia membuka kembali pabrik itu. Hal ini tentunya disambut gembira oleh seluruh warga Hadleyville. Kemudian dari pihak Assan Motor menunjuk Hunt Stevenson sebagai mediator atau penghubung antara kepentingan para pekerja dengan pimpinan dan staf pabrik untuk melakukan pendekatan kepada warga Hadleyville agar mau bekerja kembali di pabrik motor tersebut. Akhirnya setelah dilakukan rapat dengan para buruh Hunt berhasil membujuk para buruh untuk bekerja dengan upah 8,5 dollar per jam melalui ceritanya tentang pertandingan basket ball-nya.

Akan tetapi setelah selang beberapa waktu bekerja ternyata didapati bahwa kinerja para buruh tidak memuaskan, hal ini menyebabkan produksi mereka turun 3.5%. Pada saat makan malam di Koziriho menyatakan bahwa Stevenson dipecat dari pekerjaannya yang tentu saja keputusan itu tidak dapat diterima oleh Stevenson. Kemudian Stevenson mengatakan bahwa dia berjanji akan dapat memperbaiki kinerja para buruh, sebab ia adalah satu-satunya orang yang memiliki kedekatan secara emosional dengan para buruh.

Suatu ketika saat Kozihiro bersama rekan-rekannya sedang berendam di sebuah sungai tiba-tiba mereka dikagetkan dengan kemunculan Stevenson. Kemudian seorang rekan dari Kozihiro yang bernama Saito menyindir tentang kinerja buruh Amerika yang dinilai lamban. Dengan pernyataan tersebut Stevenson merasa tertantang dan menanyakan berapa mobil yang bisa diproduksi oleh orang Jepang selama sebulan. Saito mengatakan bahwa setiap bulannya mereka dapat memproduksi motor sebanyak 15.000 motor. Tanpa berpikir panjang Stevenson menyanggupi tantangan tersebut dengan kesepakatan bahwa pihak Assan motor akan menaikkan gaji buruh dari 8,5 dollar hingga menjadi 11,5 dollar per jam.

Pada keesokan harinya Stevenson mengadakan rapat dengan para buruh untuk membicarakan hal tersebut. Akan tetapi para buruh menganggap produksi mobil sebanyak 15.000 setiap bulan itu adalah sesuatu yang mustahil. Para buruh mempunyai persepsi bahwa jika 13.000 (dalam artian menghampiri 15000 mobil) maka kenaikan gaji akan tetap didapat, dan kemudian dengan terpaksa hal itu dibenarkan oleh Stevenson. Sebenarnya hal tersebut merupakan trik dari Stevenson agar para buruh tetap semangat dalam bekerja. Akan teapi lambat laun buruh tahu bahwa apa yang dikatakan oleh Stevenson itu tidak sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati oleh pihak Assan Motor. Para manajer Jepang mengetahui kebohongan ini dan Hunt dipaksa untuk mengatakan kebenarannya ke seluruh penduduk kota dalam sebuah acara hiburan malam. Ini dirasa sangat sulit oleh Hunt karena sebeleum kejujuran ini, walikota baru saja mengatakan kepada penduduk kota betapa hebatnya Hunt karena telah menyelamatkan kota dari keterpurukan ekonomi. Begitu saatnya Hunt bercerita tentang kebohongannya, pemogokan semua pekerja yang terjadi. Hunt menunjukkan dia mampu bekerja dengan sendiri agar kotanya bisa terselamatkan. Tak lama setelah melihat tekad Hunt, para pekerja lain bergabung dengannya satu per satu untuk menolong. Akhirnya mobil terus diproduksi.

Pada akhirnya setelah waktu berakhir untuk pembuatan mobil Mr. Sakamoto menghitung seluruh mobil yang telah dibuat dan menemui kenyataan bahwa mobil tersebut banyak mengalami cacat dan tidak layak jual. Di samping itu juga masih ada kekurangan sebanyak 6 mobil dari yang ditargetkan semula. Hunt kemudian masuk ke mobil dan mengatakan bahwa dia bangga dengan mobil yang “kami”, Jepang dan Amerika telah membuat bersama. Ternyata Mr. Sakamoto menyukai Hunt dan menyatakan “Kau membuatku tertawa”. Setelah melakukan berbagai pendekatan dengan Mr. Sakamoto, akhirnya Stevenson berhasil meyakinkan Mr. Sakamoto, lagi-lagi dengan cerita basket ball-nya. Hal inilah yang membuat bos dari Assan Motor itu menyetujui dan menganggap tidak ada cacat pada mobil-mobil tersebut. Artinya Mr. Sakamoto merasa puas dan menghargai kerja keras para karyawan serta menyetujui kenaikan gaji para buruh.

Karakter Tim Jepang

  • Kinerja Tim dan Loyalitas

Terbukti dari adegan “Kita harus membangun semangat. Kita harus menjadi sebuah tim. Dengan hanya sebuah tujuan. Semua hanya memikirkan perusahaan.”

Begitu spirit awal yang ditanamkan oleh pekerja Jepang kepada para pekerja Amerika. Kepentingan perusahaan harus berada di atas segalanya.

  • Mereka punya tata krama yang sangat hormat apabila memperlakukan orang lain

Terbukti dari adegan : Apabila selesai makan malam maka perempuan yang tidak berkepentingan meninggalkan meja makan untuk membiarkan para lelaki membicarakan masalah serius

  • Strategi yang matang

Terbukti saat adegan tanding melakaukan permainan bola, mereka Jepang mempunyai strategi yang hebat dan bisa mengalahkan Amerika yang mayoritas berbadan lebih besar.

Karakter Tim Amerika

  • Lebih memperhatikan keadaan sekitar

Terbukti ketika ada salah satu istri seorang pekerja yang mau melahirkan, dia merela-relakan tidak bekerja untuk menemani istrinya

  • Kesombongan mereka lebih mengutamakan kerja individual, dalam arti ingin selalu dianggap spesial.

Terbukti dari adegan yang dikatakan Hunt pada pekerja Jepang bahwa “Orang-orang disini perlu dihargai karena mereka ingin dianggap spesial”

Karakter Tim Baru dari “Cross Culture” antara Jepang dan Amerika

Dari pandangan tim Amerika : Hunt menyadari bahwa pekerja Jepang memang bisa bekerja lebih cepat, lebih baik, dan lebih lama, setidaknya dapat mengubah budaya kerja buruh Amerika yang terkesan semaunya.

Dari pandanagn tim Jepang : Takahara menyadari bahwa ia begitu penurut seolah hidup hanya untuk kerja dan perusahaan tanpa memperdulikan hal yang lebih penting, yaitu orang-orang yang dikasihi, setidaknya ia dapat mengatasi kecemasan hidupnya.
Mobil ini dibuat oleh peran kalian dan orang kami, yang kita buat dengan tangan kita sendiri dan kami bangga dengan ini. Aku mengambil satu.”

Kalimat ini diucapkan oleh Hunt Stevenson dalam akhir film ini, yang sedang berbicara dengan pemilik Assan Motor. Dalam kalimat tersebut menjelaskan bahwa telah adanya asimilasi atau pencampuran anatar dua budaya yaitu jepang dan Amerika kemudian mereka bangga dengan hasil kerja keras yang mereka lakukan bersama-sama.

Krisis yang terjadi serta Cara Mengatasi

Krisis yang terjadi bermula ketika Assan Motor Company mengalami keterpurukan sehinggan masyarakat yang menggantungkan hidupnya sebagai pekerja di perusahaan itu mengalami keterpurukan ekonomi. Hal itu mengakibatkan Hunt menemui Assan Company ke Jepang untuk meminta pemulihan pabriknya lagi, oleh karena itu Assan Motor mendapat tawaran untuk membuka kembali pabrik motor di Amerika Serikat, tepatnya di Hadleyville, Pensylvania yang telah lama tutup. Hunt Stevenson yang di tunjuk sebagai perwakilan dari kaum buruh berangkat ke Jepang untuk melakukan presentasi kepada para pimpinan Assan motor. Dia berharap mereka mau untuk “menghidupkan” kembali pabrik tersebut, karena banyak penduduk kota yang tinggal di sekitar pabrik yang menggantungkan hidupnya dari pabrik motor tersebut, sekaligus menyelamatkan warga kota tersebut dari keterpurukan ekonomi.

Cara Hunt Stevenson sebagai Supervisor dalam mengatasi krisis (Kelebihan dan Kelemahan)

Dalam salah satu adegan dari film ini terdapat aktifitas negosiasi yang dilakukan oleh Stevenson, yaitu dimana dia mencoba untuk meyakinkan para kaum buruh agar dapat kembali bekerja. Stevenson yang lebih akrap dipanggil Hunt oleh karyawan-karyawannya itu mendapat kendala karena dari pihak Assan motor hanya bersedia menggaji para burug sebesar 8.5 dollar per jam, sedang tuntutan dari buruh tersebut adalah 11,5 per jam, sesuai dengan yang dijanjikan oleh Hunt agar karyawannya dapat bekerja dengan rajin dan maksimal. Hunt yang dalam hal ini bertindak sebagai mediator oleh para Assan motor dituntut untuk dapat membujuk para buruh agar dapat bekerja dengan upah yang sudah ditetapkan oleh pihak Assan Motor tersebut. Sebagai orang yang sudah dikenal lama serta memiliki kedekatan emosional yang baik dengan para kaum buruh, Hunt benar-benar memanfaatkan kedekatan tersebut agar dapat meyakinkan para kaum buruh tersebut.

Di saat berjalannya rapat tersebut sempat terjadi perdebatan yang cukup sengit, sebab apa yang ditawarkan oleh pihak Assen Motor dianggap sangat merugikan kaum buruh, untuk dapat meredakan suasana dan memecahkan masalah yang menjadi tuntutan oleh para buruh tersebut Hunt mencoba melakukan negosiasi dengan melakukan pendekatan emosional, ia tidak langsung meminta kepada para buruh untuk dapat menyetujui perjanjian tersebut akan tetapi dengan menyamarkannya, yaitu dengan menceritakan pertandingan basket ball yang pernah ia jalani bersama-rekan-rekannya. “Waktu itu mereka mengalami kekalahan di babak awal pertandingan akan tetapi dengan semangat dan kerja keras yang tinggi akhirnya mereka berhasil membalasnya pada babak ke-4 dan merekapun berhasil memenangkan pertandingan. Cerita tersebut ternyata membuahkan hasil, Hunt berhasil meyakinkan para buruh bahwa jika mereka bersedia bekerja kembali maka Hunt berjanji akan memberikan kemenangan berupa kesejahteraan bagi kaum buruh, dan seluruh buruhpun bersorak menyambut ajakan Hunt tersebut. Jadi yang dilakukan Hunt atau Stevenson dalam kajian negosiasi merupakan bentuk negosiasi mediasi. Hunt selaku orang yang mengenal karakter dari kedua belah pihak menjadi jembatan yang mampu mensiasati agar dari ke dua belah pihak baik kaum buruh maupun Assan motor sama-sama diuntungkan. Bagi kaum buruh atau warga Hadleyville dapat menikmati pekerjaan dan dari pihak Assen mendapat keuntungan produksi motor dari kinerja para buruh tersebut.

Kelebihan : Cara negosiasi merupakan cara yang baik dalam menyelesaikan masalah

Kekurangan : Kita seharusnya lebih melihat kemampuan pekerja telebih dahulu baru memutuskan hal tersebut. Akibatnya banyak pekerja yang benar-benar memaksakan keadaan untuk bekerja sehingga orang disekitar dan makanpun tak dihiraukan.

Apabila di posisi Stevenson, apa yang saya lakukan.

  • Saya juga akan mengadakan negosiasi dengan pihak Assan Motor, akan tetapi lebih memikirkan terlebih dahulu bagaimana kemampuan pekerja untuk menghasilkan 15000 mobil dalam sebulan tersebut.
  • Jikalau memang perjanjian adakalanya seperti itu maka saya akan lebih terbuka kepada pekerja tentang kenyataan yang terjadi, bahwa ketika menghasilkan mobil apabila kurang satupun maka gaji tidak akan naik.

Budaya mana yang lebih baik

Menurut saya dari kedua belahpihak mempunyai sisi positif yang baik. Bekerja keras yang diterapkan oleh Jepang dan Amerika bisa dijadikan contoh untuk Indonesia dalam bekerja. Dari cara dan semangat mereka bekerja, terbukti dengan kemajuan Negara mereka telah membuktikan betapa hebat dan berkualitas sumber daya manusia di Jepang dan Amerika. Dengan strategi Jepang dan semangat kerja keras Amerika.

Pembelajaran yang dapat diambil dari film Gung Ho ini

Didalam kesempatan kali ini, saya dapat menarik kesimpulan bahwa perbedaan budaya akan menjadikan suatu daya saing yang kuat dan menjadi lebih harmonis dalam setiap apa yang mereka kerjakan bersama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s