Keterampilan Interpersonal 3 : Manajemen Diri

Kuliah Keterampilan Interpersonal sangat beragam, ada yang didalam kelas, luar kelas bahkan luar kampus. Pada pertemuan ketiga berlanjut dalam materi Manajemen Diri, kita melakukan kuliah di luar wilayah kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember, kita melakukan kunjungan ke LIPOSOS (Lingkungan Pondok Sosial) yang berada tidak jauh dari area kampus, terletak di daerah Keputih Sukolilo. Ini adalah pengalaman pertama saya berkunjung ke Panti Sosial sejenis seperti ini, saya sangat bersemangat mengikuti kuliah kali ini, sambutan dari pihak LIPOSOS sangat hangat. Selain hanya berkunjung, kita juga berkenalan dengan masyarakat yang ada disana, dengan karakter yang berbeda-beda. Kita sebagai mahasiswa harus berperilaku yang hormat dan baik dalam memperlakukan mereka, setidaknya kita yang harus lebih mengerti keadaan psikis mereka dengan berbagai latar kehidupan yang indah maupun yang menyakitkan. Selain hanya berkunjung juga kita membawa pakaian-pakaian bekas untuk diberikan kepada mereka yang membutuhkan.

Saya tertarik berkenalan dengan seorang ibu-ibu, dia banyak bercerita tentang masa lalunya dia yang menyedihkan dan terkadang geli juga saya mendengarnya. Dia mengakui dirinya sebagai seorang Pekerja Seks, dia bercerita semangat sekali, dari masalah keluarganya dan pengalaman yang pernah dia rasakan sebagai Pekerja Seks. Sedih ketika mendengar dia terpaksa untuk bekerja seperti itu karena tuntutan ekonomi, punya saudara banyak dan orang tua yang kekurangan tidak cukup untuk kebutuhan sehari-harinya. Memang alasan yang menjadi faktor utama kebanyakan mereka menjadi PSK adalah masalah ekonomi. Yang membuat geli dari cerita ibu tersebut, ketika masih menjadi seorang PSK dia sangat senang ketika kejar-kejaran dengan petugas keamanan yang ingin menangkap dia, ibu itu tidak hanya sekali kejar-kejaran seperti itu dengan polisi, “Saya lincah kalau berlari diluar, sering petugas keamanan itu tidak bisa menangkap saya, hehe”, kata ibu. Dia juga sudah berapa kali keluar masuk LIPOSOS tersebut karena tidak kerasan berada disana, dia sering mengamuk karena ketidakbetahaannya sehingga kabur, dan ditangkap lagi, begitu berulang kali. Sedih ketika mendengar dia bercerita ingin ketemu dengan anaknya, anaknya tidak pernah mengunjunginya selama berada di LIPOSOS tersebut. Ketika keberadaannya tidak diterima oleh masyarakat, ibu tersebut sangat sedih ketika bercerita hal itu, ketika dimana anda berada dilingkungan yang tidak menyukai anda.

Dari cerita ibu ini, banyak sekali pelajaran dan nilai kehidupan yang saya peroleh, antara lain :

  • Keterbukaan Diri

Melihat gambar diatas seolah-olah kita merasakan kebebasan karena kita sudah mengutarakan rasa atau masalah yang ada pada diti kita. Sifat ini dibuthkan dalam kehidupan sehari-hari, biasa disebut dengan curhat. Seseorang pasti memerlukan orang lain untuk berbagi masalahnya, hal tersebut memang sangat wajar terjadi pada diri manusia dengan dasar makhluk sosial. Orang yang terbuka akan berbeda kesehariannya dengan orang yang selalu tertutup. Sebelumnya kita sudah belajar mengenai Jendela Johari dimana Open self adalah ketika informasi, perilaku, sifat, perasaan, keinginan, ide diketahui dengan baik, baik oleh diri sendiri maupun orang lain. Dengan sifat seperti itu kita bisa mengetahui dengan baik keinginan kita, dan orang lain yang tahupun maka dia akan mendukung, ketika seseorang sudah mendapat dukungan maka ia akan menjadi lebih termotivasi meraih keinginan kita. Ada kalimat “Katakanlah mimpi kalian kepada orang lain sehingga kita benar-benar termotivasi meraih mimpi itu”, sebuah kalimat yang memberi tantangan kepada kita. Saya mengutip sebuah buku dengan judul “Fire in the Heart” oleh Deepak Chopra yang mengatakan “ketika kita bersikap terbuka, hidup akan benar-benar jauh lebih indah. Kita mengizinkan banyak hal terjadi, kita membiarkan orang-orang menjadi diri mereka sendiri”.

  • Lebih Menghargai Keberadaan Mereka

Dari cerita dan perkenalan-perkenalan dengan ibu tersebut betapa kasihan mendengar dia sedih ketika keberadaanya tidak disukai masyarakat. Kita harus belajar lebih menghargai orang lain dengan bagaimanapun latar belakang mereka karena mereka juga mempunyai hati yang bisa sakit, mereka juga punya hak untuk hidup, mereka melakukan semua itu dengan alasan ekonomi yang lebih susah daripada kita, tapi saya tidak membenarkan pekerjaan mereka akan tetapi keberadaan mereka yang harus kita hargai. Sifat seperti ini harus kita terapkan dikehidupan sehari-hari karena hanya dengan begitu orang laun juga akan menghargai keberadaan kita.

  • Belajar dari pengalaman

Seringkali kita mendengar “Pengalaman adalah guru terbaik”, kita sebagai mahasiswa harus bisa menjadikan pengalaman kita sendiri maupun orang lain sebagai pembelajaran menjadikan diri lebih baik. Kita belajar dari pengalaman ibu tersebut dengan cerita sedihnya, maka kita tidak boleh seperti dia, kita tahu betapa kasihan hidupnya. Siapa yang mau hidup seperti itu? Oleh karena itu kita harus selalu memperbaiki diri agar tidak terjerumus dengan kehidupan seperti itu.

 

Selain belajar dari cerita-cerita yang mereka utarakan, banyak sekali nilai kehidupan yang kita bisa pelajari untuk modal menjalani hidup lebih baik. Nilai yang mendasar yang dapat kita peroleh yaitu Empati Sosial.

1.      Empati sosial

Empati adalah dimana saat kita mampu merasakan kondisi emosional orang lain, dengan cara kita simpati pada orang lain tersebut. Kita harus menyadari bahwa kita mempunyai sifat yang belum tentu bisa diterima oleh semua orang. Kita harus ekstra hati-hati dalam bersikap, berpikir sebelum bertindak. Semua akhirnya kembali pada diri kita untuk selalu pandai menempatkan sifat-sifat yang kita miliki dan mungkin bisa dijadikan pertimbangan, kita harus selalu berempati dengan apa yang ada.

2.      Memberi

Kita memberikan sedikit bantuan bagi mereka yang membutuhkan dengan beberapa pakaian bekas layak pakai, disini kita belajar memberi, belajar berbagi dengan orang-orang yang hidupnya tidak seberuntung kita. Dari pengalaman dan pembelajaran ini kita dilatih utnuk peduli dengan lingkungan sekitar kita, itu akan sangat bermanfaat untuk kedepannya. Karena lingkungan terdekat adalah lingkungan yang akan menjaga kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s